Ini Solusi KPLHI Untuk Industri Plastik Batam

Azhari Hamid ST,M.Eng - Mantan ASN Yang Menjadi Pejuang Lingkungan
BATAM | Heboh terkait limbah plastik sepertinya memang menjadi trending topic. Di Batam Walikota Rudi bahkan sampai harus turun langsung ke lapangan untuk sidak kontainer bermuatan bahan plastik yang diduga terkontaminasi limbah B3. Paradigma yang terbentuk adalah limbah plastik ini berbahaya. Namun lain hal dengan KPLHI ( Komite Peduli Lingkungan Hidup Indonesia ) DPW Batam yang di gawangi oleh Azhari Hamid, ST.M.Eng , seorang mantan ASN ( Aparatur Sipil Negara ) yang memilih jalan hidup menjadi pejuang lingkungan dan melepaskan karir cemerlangnya sebagai PNS.

Menurut Azhari,  memahami permasalahan limbah plastik harus di urut dari definisi  “sampah” dan “Limbah B3” . Definisi  sampah   menurut  UU   No.  18  Tahun  2008,   Sampah  adalah   sisa   kegiatan  sehari-harimanusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Definisi Limbah dan Limbah B3 menurutUU No. 32 Tahun 2009, Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan sedangkan Limbahbahan   berbahaya  dan   beracun,yang   selanjutnya  disebut  Limbah   B3,   adalah   sisa suatu   usahadan/atau kegiatan yang mengandung B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).

Azhari dan   beberapa   teman   yang   pernah   menuntut   ilmu   di   Magister  Sistem   Teknik   ProdiTeknologi  Pengelolaan Sampah  dan Limbah  Perkotaan  mendefinisikan  sampah sebagai “sisakegiatan sehari hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat berupa zatorganik atau anorganik bersifat dapat terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidakberguna lagi dan dibuang ke lingkungan”. 

Kesimpulannya bahwa sesuatu material atau bahan akan menjadi sampah jika dianggap sudah tidak dapat dipergunakan lagi. Namun cara pandang seseorang terhadap yang namanya sampah juga akan berbeda. Misalkan plastik, bagi seorang iburumah tangga konvensional plastik sudah menjadi limbah saat berada didapurnya tetapi bagi seorang pemulung yang mungkin lebih rendah tingkat pendidikannya bahwa plastik belum dapat dikatakan   “sampah”   karena   ada   pihak   lain   yang   akan   menampung   dan   membelinya.   

Bagi pemulung   plastik   adalah   berkah.   Ketika   plastik   berada   ditangan   orang   –   orang   yang   punya inovasi  dan paham   tentang   karakter   plastik  maka  material   ini  akan  menjadi  bertambah  nilai ekonominya.

" Menurut   saya   sampah  plastik   tidak   akan   berbahaya   jika   masih   terkemas   dalam   container ataupun   pembungkus   lainnya   sekalipun   terkontaminasi   oleh   Limbah   B3   ataupun Bahan Berbahaya Beracun. Sampah plastik akan berbahaya pada saat dilakukan proses pembersihan dan   pemanasan   untuk   dijadikan   biji   plastik   (granular   plastic   recycle).   Tindakan  recycle merupakan salah satu upaya untuk perlindungan lingkungan dari pencemaran bahan – bahan berbahaya." demikian Penjelasan Azhari. 

Atas dasar tersebut, Azhari merasa tidak perlu menjadi terlalu sensitif dengan kegiatan pengolahan plastik yang banyak menimbulakn pro dan kontra di Kota Batam. Bahwa plastik menjadi “sampah” pasca penggunaan yaitu benar namun perlu diketahui bahwa karakter plastik adalah material yang tidak mudah terurai sehingga upaya melakukan recycle plastik dalam bentuk lain masih menjadikan prioritas.

"Yang   harus   diwaspadai   dalam   proses  importasi   plastik   adalah   saat  proses   lanjutan dipabrik karena disana akan dilakukan pencucian sebelum dipanaskan dan dicetak menjadi biji plastik.Hal ini yang tidak menjadi perhatian kita selama ini. Proses pencucian akan membutuhkan air yang cukup besar dan bahan – bahan deterjen. Selain itu kontaminasi dengan Limbah ataupun Limbah B3 akan tetap dibersihkan dalam proses pencucian tersebut. Disinilah seharusnya kita melakukan pengawasan yang ekstra ketat agar air cucian plastik tersebut tidak dibuang ke media lingkungan sebelum dilakukan proses penjernihan." tutur Azhari memberikan point penekanan. 

" Berikutnya   yang   harus   menjadi   tanggap   dan   awas   kita   saat   proses   memasak   plastik   untuk dijadikan biji. Pencemaran udara dari proses ini sangat potensial merusak kondisi udara yang kita hirup. Kedua masalah utama ini dapat diselesaikan dengan pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengolah limbah cair hasil pencucian plastik. Sedangkan polusi udara dari proses memasak plastik harus dikendalikan pada cerobong asap mesin produksi. Banyak pilihan equipment untuk itu dari berbagai jenis scrubber yang dapat mengikat karbon yang keluar dari proses pemanasan plastik." lanjut Azhari panjang lebar. 

Sebagai kesimpulan, Azhari menekankan agar Masyarakat dan Pemerintah tidak perlu GALAU berlebihan terhadap importasi plastik untuk diproses menjadi biji plastik di Kota Batam sebagimana ketakutan yang luar biasa yang diungkapkan Walikota Batam saat sidak Kontainer bermuatan plastik. 

"semua persoalan pasti ada solusinya. Saran saya biarkan industry plastik berjalan untuk mendapatkan pemasukan buat pemerintah dan membuka peluang kerja namun harus dijaga pada kondisi hilirnya dengan membuat ketentuan yang  sangat ketat atas pembuangan limbah cair dan polusi udaranya. Mungkin Bapak Walikota harus dan perangkatnya harus   duduk   bareng   juga   dengan   para   pelaku   bisnis   dan   importir   plastik   untuk  membuat kesepakatan – kesepakatan pengelolaan dan pemantauan di proses hilirnya." demikian Azhari memulai pemaparan solusi industri plastik Batam. 

Melanjutkan solusinya, Azhari menguraikan bahwa sejatinya   akhir   dari   perjalanan   material plastik   adalah   menjadi   karbon   yang   sangat dikhawatirkan   oleh   makhluk   hidup   karena   dapat   mencemari   udara.   Kalau  dikaji   bahayanya mungkin tidak akan sebanding dengan konsumsi BBM fosil yang kita pergunakan sehari hari karena  plastik juga dibuat dari bahan yang sama dengan minyak bumi yaitu ethylene. 

"Maka jika saya dan KPLHI Kota Batam yang saya nakhodai ditanya tentang hal ini, saya tidak akan merasaterganggu dengan importasi plastik dan sejenisnya untuk pembuatan biji plastik di Kota Batam. Saya dan KPLHI Kota Batam akan berjuang untuk konsevasi dan penambahan lahan hijau yang   salah   satunya   berfungsi   untuk   pencegahan   pencemaran   udara   karena   tumbuhan membutuhkan karbon untuk bernafas, ini pelajaran kita waktu di SMP mungkin. " demikian Azhari menegaskan sikapnya. 

Sebagai akhir pembicaraan, Azhari hanya mengutip kalimat " Maha Besar Allah yang telah menciptakan dunia ini dengan sebaik – baiknya desain untuk keseimbangan hidup makhluknya." untuk disampaikan kepada seluruh pembaca. ( 007 )
Gambar tema oleh Jason Morrow. Diberdayakan oleh Blogger.