Terkait Narkoba, Anak Di Bawah Umur Di Jatuhi Hukuman 4 Tahun Penjara Dan Denda 1 Miliar

MS Saat Menjalani Persidangan

Karimun | Kejaksaan Negeri Karimun, Kepulauan Riau masih belum memastikan putusan majelis hakim pengadilan setempat yang memvonis seorang remaja berusia 17 tahun, MS, terkait perkara penyelundupan 26 kilogram sabu-sabu dari Malaysia.Rabu (10/7) terkait perkara penyelundupan sekitar 26 kilogram sabu-sabu dari Malaysia. 


Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Karimun Hamonangan Sidauruk di ruang kerjanya menjelaskan tentang putusan sebelum menerima atau banding masih kita pelajari, Kamis.(11/7/2019)

"Karena lokasi penangkapannya berada di Kabupaten Karimun, perkara penyelundupan sabu-sabu tersebut merupakan limpahan dari Kejaksaan Tinggi Provinsi Kepri akan diadili di Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun" ungkap 
Hamonangan 

Karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Kejati Kepri untuk dimintai pendapatnya terkait amar putusan majelis hakim.

"Sesuai batas waktu yang ditetapkan majelis hakim. Kami akan putusan dalam waktu satu pekan untuk banding atau tidak," kata dia lagi.

MS, seorang remaja atau anak di bawah umur asal Jember, Jawa Timur terkait penyelundupan sekitar 26 kilogram sabu-sabu dari Malaysia telah divonis bersalah, Majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun yang diketuai Joko Dwi Atmoko didampingi hakim anggota Yudi Rozadinata dan Yanuarni Abdul Gaffar dalam persidangan, 

Joko Dwi Atmoko dalam putusan menjatuhkan hukuman 4 tahun penjara potong masa penahanan sementara dan denda Rp1 miliar kepada MS. Jika denda tersebut tidak dibayar, maka MS harus menggantinya dengan mengikuti pelatihan kerja selama 6 bulan.


MS dikenakan Pasal 113 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-undang No 35 tahun 2009 tentang Narkotika yakni melakukan percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika dan prekursor narkotika yaitu memproduksi, mengimpor, mengekspor atau menyalurkan narkotika Golongan I bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 gram.


Majelis hakim menyatakan bahwa putusan yang dijatuhkan terhadap MS telah mempertimbangkan status MS yang masih anak di bawah umur, dan juga telah mempertimbangkan ketentuan dalam Undang-undang tentang Sistem Peradilan Anak, yakni separuh lebih rendah dari ancaman hukuman terhadap orang dewasa.

Putusan majelis hakim tersebut jauh lebih rendah dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum Herlambang Adhi Nugroho yang menuntut agar MS dihukum 10 tahun penjara dan pelatihan kerja selama 6 bulan.

Kasus narkoba yang melibatkan MS dan 7 tersangka lain yang sudah dewasa, merupakan kasus penyelundupan sabu-sabu yang diungkap Badan Narkotika Nasional Provinsi Kepri.

BNNP Provinsi Kepri mengungkap kasus tersebut menangkap sebuah "speedboat" yang membawa satu karung berisi sekitar 26 kilogram sabu-sabu dari Malaysia, di perairan Pulau Judah, Desa Keban, Kecamatan Moro, Kabupaten Karimun pada 25 Mei 2019 yang lalu.

Dalam persidangan dengan MS sebagai terdakwa disebutkan bahwa MS direkrut di kampung halamannya di Jember untuk bekerja di sebuah penambangan emas di Batam dengan iming-iming upah sebesar Rp30 juta.

Sementara itu, penasihat hukum MS, Ridwan mengatakan MS sama sekali tidak mengetahui kalau dia hendak dipekerjakan untuk menyelundupkan sabu-sabu dari Malaysia.

Ridwan berharap selaku pembelaan MS karena MS hanya tahu bahwa dirinya dipekerjakan untuk membawa emas. Dengan dijanjikan upah sebesar  Rp. 30.000.000- memohon majelis Hakim memberikan kebebasan dari semua dakwaan.


"Setelah adanya penangkapan oleh BNN, MS baru mengetahui bahwa yang di bawa di dalam Karung tersebut adalah sabu sabu" demikian Ridwan memberikan penjelasan. 

" Terkait putusan majelis hakim terhadap MS kami masih pikir pikir kembali untuk banding atau putusan," jelas Ridwan Mengakhiri.( Dian )

Gambar tema oleh Jason Morrow. Diberdayakan oleh Blogger.