Cegah Sebelum Terjadi Ala Minority Report Di Tehnologi Industri 4.0

Ali Fauzi Saat Membawakan Presentasi Tentang Tehnologi Industri 4.0
BATAM | Bagi anda penggemar aktor Tom Cruise, tentu ingat film fiksi ilmiah Minority Report yang tayang pada tahun 2002. Hampir 17 tahun yang lalu. Dalam film tersebut, sebuah departemen pencegahan kejahatan bernama PreCrime beroperasi dengan cara menangkap pelaku kejahatan sebelum kejahatan terjadi. 

Apa yang dilakukan PreCrime, sekarang menjelma menjadi kenyataan dalam bentuk Tehnologi Industri 4.0. Memang tidak dalam bentuk mencegah kejahatan, tetapi lebih kepada mencegah terjadinya hal hal fatal dalam industri seperti kerusakan mesin sebelum terjadi. Industri Tehnologi memiliki salah satu keunggulan yaitu mampu memprediksi terjadinya hal-hal yang tidak di inginkan dalam sebuah proses produksi. 

Ali Fauzi, pakar Tehnologi Industri 4.0 dari Batam mencontohkan kemampuan Prediktif Analysis dalam sebuah unit offshore pengolahan minyak. Sebagai sebuah industri dengan biaya mahal, tehnologi Industri 4.0 Prediktif Analysis menurut Ali akan mampu membantu sebuah unit pengolahan minyak mendeteksi "bakal"kerusakan proses produksi sebelum terjadi. 

" Kita ambil contoh dalam sebuah unit Pengolahan Minyak. Yang selama ini terjadi, rusak dahulu baru kemudian diambil tindakan antisipasi. Jika akibat dari kerusakan menyebabkan proses produksi terhenti selama sehari saja, bisa dibayangkan berapa ratus juta minimal kerugian yang akan terjadi. Belum lagi jika perbaikannya membutuhkan peralatan yang harus di pesan terlebih dahulu, otomatis produksi terhenti sampai peralatan datang. Hal ini bisa di cegah dengan mengadopsi Tehnologi Industri 4.0 berupa prediktif analysis yang berbasis IIToT ( Industrial Internet Of Thing )" demikian Ali menjelaskan. 

Batam adalah kota Industri yang menurut Ali sudah sangat canggih. Berbagai industri yang ada di Batam sebenarnya sudah menerapkan tehnologi yang mendukung revolusi Industri 4.0 jauh sebelum kata Industri 4.0 populer beberapa tahun terakhir. 

" Informasi tentang terapan tehnologi canggih di Batam sangat minim padahal sudah dimulai dari basis awal Industri di mulai di Batam. Beberapa perusahaan yang dulu pernah eksis di Muka Kuning bahkan sudah menerapkan sistem komunikasi jaringan yang integrated dan terhubung dengan basis produksi. Hal ini kurang terpublikasi sampai saat perusahaan - perusahaan tersebut tutup dan hengkang dari Batam. " lanjut Ali menjelaskan.

" Ada tiga level konsep dasar dalam mengembangkan Industri Tehnologi 4.0. 
level 1 yaitu Coonected Ready. 
Level 2  yaitu Edge Control 
dan Level 3 yaitu Analitic. Untuk bisa mendukung tehnologi industri 4.0 maka 

Level 3 yg perlu di optimalkan." demikian ALi menambahkan. 

Praktisnya, Perusahaan yang sudah menerapkan SCADA (  Supervisory Control And Data Acquisition ) bisa mengadopsi Tehnologi Industri 4.0 ke perusahaan mereka.  SCADA sendiri artinya adalah lebih kurang sistem kendali industri berbasis komputer yang dipakai untuk pengontrolan suatu proses. 

Suatu sistem SCADA biasanya terdiri dari antarmuka manusia mesin (Human-Machine Interface), unit terminal jarak jauh yang menghubungkan beberapa sensor pengukuran dalam proses-proses di atas, sistem pengawasan berbasis komputer untuk pengumpul data infrastruktur komunikasi yang menghuhungkan unit terminal jarak jauh dengan sistem pengawasan.

lebih jauh Ali menjelaskan bahwa secara prinsip, Batam harusnya sudah siap untuk menjadi revolusioner di Tehnologi Industri 4.0. Berbagai perusahaan baik PMA Asing terkemuka, PMDN berkembang dengan cukup signifikan di banding daerah lain di Indonesia. Terlebih Tenologi Industri 4.0 jika diterapkan akan mampu menghemat banyak hal, termasuk energi. (007 )



Share: